Mami Mashiro - Indo18: Fsdss-874 Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik
Mata kami bertemu, dan dalam sekilas, aku merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar rasa lapar. Ada getaran halus, seolah-olah setiap detik di antara kami mengandung energi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Setelah menikmati beberapa set sushi, kami memesan sake hangat. Gelas kaca berkilau di tangan Mashiro, cahaya lampu menyorot kilauannya. Kami bersulang, “Kanpai!” seru kami serempak.
Dia mengangguk, kemudian mencondongkan kepalanya ke arahku, bibirnya mendekat. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini? Bukan sekadar rasa makanan, tapi rasa yang mengalir dalam setiap detak jantungmu.”
Kasih Paham Rudalku Terhadap Teman Kerja Cantik, Mami Mashiro Kode: FSDSS‑874 – INDO18 Bab 1 – Panggilan Tak Terduga Aku, Rudi, seorang analis data di sebuah perusahaan teknologi yang sedang naik daun, tak pernah menyangka sebuah email singkat dapat mengubah ritme hariku. Pagi itu, sebelum matahari sepenuhnya menguasai kota, inbox-ku bergetar dengan subjek: “Undangan Makan Siang – 12.30, Ruang Istirahat Lantai 5” . Pengirimnya? Mashiro Tanaka , atau yang lebih akrab disebut Mami Mashiro oleh rekan-rekan kerja. Mata kami bertemu, dan dalam sekilas, aku merasakan
Saat taksi berhenti di depan restoran sushi, lampu neon berkilau menambah sensasi malam yang hangat. Kami masuk, memilih tempat duduk di pojok yang agak sepi, dengan pemandangan dapur terbuka. Chef menyiapkan sashimi segar di depan kami, menorehkan aroma ikan mentah yang menggiurkan.
Mashiro menggelengkan kepalanya, seolah menegaskan setiap kata yang belum terucapkan. “Aku tidak mengharapkan apa-apa selain kebahagiaanmu, Rudi. Kita bisa melanjutkan ini kapan pun kamu siap.” Gelas kaca berkilau di tangan Mashiro, cahaya lampu
Sake menetes perlahan di tenggorokanku, menghangatkan tubuh. Mashiro mencondongkan gelasnya sedikit lebih dekat, hampir menyentuh bibirku. Aku merasakan getaran ringan pada bibirku yang hampir bersentuhan.
“Rudi, kamu tahu apa yang membuat sushi begitu istimewa?” tanya Mashiro sambil menatapku. “Rudi, apakah kamu siap menerima rasa baru ini
“Lebih dari rasa. Itu tentang ketelitian, kepercayaan, dan… sentuhan pribadi,” ia menjawab, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, sehingga bau harum wasabi dan kecap asin menyentuh kulitku.
