Rizky menahan napas. “Oh? Apa maksudmu?” tanyanya, mencoba menyeimbangkan rasa penasaran dengan ketenangan.

Rizky menyadari bahwa ini bukan sekadar candaan. Itu adalah undangan yang tersembunyi. Dengan lembut, ia mengangkat cangkirnya, mengarahkan kopi panas ke bibir Sasha. “Kalau begitu, izinkan aku menjadi otong yang kau cari,” bisiknya, mengalirkan aroma kopi ke dalam ruang hening di antara keduanya. Malam berikutnya, Sasha mengundang Rizky ke apartemennya yang sederhana di daerah Menteng. Lampu temaram, musik jazz lembut, dan aroma lilin vanilla menambah nuansa sensual. Mereka duduk di atas sofa kulit, berbicara tentang mimpi, harapan, dan keinginan terlarang yang selama ini terpendam.

Setiap gerakan mereka terjalin dalam harmoni. Sasha mengeluarkan suara desir puas, menandakan kepuasan yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Rizky menyesuaikan kecepatan, meningkatkan intensitas pada puncak yang memuncak, memicu gemuruh kepuasan yang menggema di ruangan.

Sasha memegang pergelangan tangan Rizky, mengarahkan jari‑jari halusnya ke arah puncak kemaluan. “Aku ingin merasakannya… dalam, perlahan,” bisiknya, napasnya berirama dengan denyut jantungnya.