“Aku udah baikan sekarang,” katanya. “Taman sepi ternyata enak juga ya. Kayak punya dunia sendiri.”

Ini dia. Keintiman yang aku rindukan. Bukan soal seks, tapi soal kepercayaan. Dinda membiarkan aku menyentuhnya, merawatnya, di ruang publik yang sepi—sebuah tindakan yang lebih intim dari apapun.

Aku tersenyum. Inilah momen yang aku tunggu-tunggu. Seminggu ini hubungan kami lagi canggung. Sibuk kerja, ditambah sering ribut soal hal sepele. Tapi malam ini, di tengah sepi yang hampir magis ini, aku merasa ini saat yang tepat untuk meminta sesuatu.

“Deal,” jawabku cepat.